Living Alone in a New City

I have been living in Semarang for a month. Semarang was such a strange city for me as I hadn’t had a chance to visit the city. I moved there a month ago to get my professional degree in teaching. At first I hesitated to move there. I didn’t want to live alone and parted away from my family. The first two weeks were indeed difficult for me as I had to adapt with new environment and new people. In addition I missed my family so much.

I was accompanied by my brother on day one. Then my brother left for Solo in the late afternoon. Seeing my brother on the bus heading to Solo made me terribly sad. I decided to go to mosque to do sholat and I cried hard there. I cried really hard. I couldn’t believe that I was all alone in a new city. I had to survive by myself.

I always cried hard for the first two weeks missing my family. I realized that I was such a crybaby. I felt like some parts of my heart were gone. I did video call my family pretending that I was okay. Deep down in my heart, I was crying a river.

Now it has been a month since the first time I lived alone. I did realize a part of me has changed. We should cherish every single moment we spend with our beloved ones. Being away from my family makes me get closer to them even though we are far physically.

Iklan

Blackforest Cake

Tiap liat kue yang satu ini di toko kue selalu saja pengen banget beli, tapi setelah liat harganya langsung mengurungkan niat. Iya, secara kue ini lumayan mahal. Bagi saya sih mahal ya, secara kebutuhan ekonomi belum ada yang menyokong ><

Setelah membuat sendiri kue ini akhirnya sadar kenapa jatuhnya mahal karena memang bahannya mahal juga. Penggunaan telur harus banyak biar kuenya empuk,  coklatnya juga jangan yang murahan biar enak. Gak mau kan sudah capek seharian terus rasa kue nya gak enak gara-gara coklatnya murahan, ya paling enggak pake coklat yang standarnya lumayan. Kalo saya pake coklat bubuk van houtten (duh pas beli ini rasanya berat banget, harganya 23,800 dapatnya cuma 90 gram, tapi setelah tau rasanya worthy lah ya), coklat batangannya saya pake Tulip.

Resepnya nyontek di blog NCC . Resepnya saya modifikasi. Saya pakai setengah resep dari resep original karena cake saya hanya dua lapis.

Bahan:

4 butir telur
30 gr coklat bubuk
20 gr maizena
50 gr terigu protein rendah/sedang
1/2 sdm emulsifier
50 gr mentega, lelehkan
100 gr gula pasir
1/4 sdt vanilla

Hiasan:

500 gr whipped cream
200 gr Dark Cooking Chocolate
50 gr Selai Strawberry

Cara membuat:

  1. Campur dan ayak terigu, coklat bubuk dan maizena, aduk rata. Siapkan 2 loyang bulat diameter 20 cm, olesi margarine, alasi kertas roti, oles lagi dengan margarine.
  2. Kocok telur, gula dan emulsifier hingga mengembang dan kental.
  3. Masukkan campuran tepung kedalam kocokan telur yang telah mengembang. Bisa diaduk dengan spatula atau mikser kecepatan rendah,
  4. Tuang ke dalam loyang, oven hingga matang . Angkat, keluarkan dari loyang, dinginkan.
  5. Penyelesaian:
    Basahi satu lapis cake dengan simple syrup, oles dengan selai strawberry, lalu oles dengan whipped cream diatasnya. Oles cake yang lain dengan simple syrup, lalu tumpuk dengan bagian cake yang lain. Tutup semua bagian cake dengan whipped cream.
  6. Buat pagar coklat dengan melelehkan dark coklat setelah leleh masukkan soklat ke dalam piping bag. Siapkan kertas roti sesuai dengan keliling cake. Bentuk coklat sesuai dengan kreativitas masing masing.
  7. Hias bagian atas coklat dengan whipped cream dan coklat serut. Bisa ditambahkan cherry atau strawberry.

Nastar Klasik

Akhirnya yang ditunggu-tunggu datang juga, NANAS! Sudah berminggu-minggu mencari si nanas ini di pasar tapi selalu stock-nya tidak ada. Kemarin Ibu liat si nanas ini sedang berjemur di pasar dan langsung di beli. Yatta, hari ini langsung di olah jadi nastar.

Nastar ini bikinnya membutuhkan waktu seharian. Iya seharian penuh. Soalnya bikinnya ditinggal-tinggal mulu, ditinggal masak lauk, ditinggal ngobrol sama pakde yang kebetulan hari ini berkunjung, ditinggal tidur siang pula.

Ada beberapa tipe nastar, yang saya tahu ada yang tipe nastar lumer atau bahasa lainnya ngeprul dan satunya lagi nastar renyah dan padat. Perbedaannya sepertinya (baru pemula, jadi pakai kata “sepertinya”) ada pada penggunaan telur.

Nastar yang saya buat ini tipe nastar yang padat dan renyah. Ibu memang sengaja request yang padat dan renyah karena Ibu nggak suka nastar yang ngeprul, katanya kayak makan terigu. Karena Ibu merupakan sponsor utama terselenggaranya acara masak memasak di dapur, jadinya saya turutin “ngendikanipun” Ibu. setelah mencari-cari resep nastar yang renyah akhirnya ketemu di blog bunda nina 

Di repost yaa resepnya, tapi ada yang dimodifikasi sedikit. Saya tidak menambahkan keju parmesan, karena memang tidak punya. :p

Bahan Adonan Nastar:
100 gram butter
50 gram margarin
60 gr gula bubuk
2 kuning telur
1 putih telur
300 gram tepung terigu all purpose
27 gram susu bubuk

Bahan Isian :
2 buah nanas
100 gram gula pasir
2 lembar daun pandan

Bahan Olesan:
1 kuning telur
Pewarna makanan kuning telur
Keju cheddar parut

Cara Membuat Selai:
Blender nanas hingga halus. Masak di atas api sedang dan tambahkan sobekan daun pandan hingga airnya berkurang. Masukkan gula pasir dan aduk-aduk hingga lengket.
Diamkan dalam kulkas supaya mudah untuk dibentuk.

Cara Membuat Nastar:
1. Kocok butter, margarin, telur, dan gula sebentar saja. Jangan mengocok terlalu lama karena adonan bisa mbleber ketika dipanggang.
2. Ayak tepung terigu dan susu bubuk. Masukkan ke dalam adonan basah secara
bertahap menggunakan spatula.
3. Diamkan di kulkas selama 30 menit.
4. Ambil adonan pipihkan dan isi dengan selai nanas.
5. Panggang adonan. setelah 10 menit, keluarkan dan olesi kuning telur dan taburi keju parut. Masukkan lagi dalam panggangan hingga matang

 

Sekelumit Cerita di Tawangmangu

tawangmangu
cr : indonesia-tourism.com

Tawangmangu bukanlah tempat yang asing lagi untuk warga masyarakat Soloraya. Tawangmangu merupakan objek wisata yang terletak di kaki gunung Lawu. Terakhir kali saya mengunjungi tempat ini sekitar akhir tahun 2013.

Saat itu teman saya yang menetap di Batam pulang ke Solo untuk mengadakan pernikahan. Lalu dia mengajak saya dan sepupu saya pergi ke Tawangmangu. Sempat ragu untuk menerima ajakanny dikarenakan cuaca yang memang tidak bersahabat kala itu. Namun  teman saya tersebut jarang pulang ke Solo dan apa salahnya mengiyakan permintaannya, toh jarang ketemu sama dia. Satu kendala lagi dihadapi oleh kami yaitu motor sepupu saya sedang tidak dalam kondisi yang bagus, rem motor agak tidak terlalu cakram, tapi dia sangat yakin dia bisa mengatasinya.

Akhirnya berangkatlah kami berempat ke Tawangmangu dengan mengendarai motor. Saya dibonceng sepupu saya saat itu. Semua aman terkendali, cuaca bersahabat dan motor tidak bermasalah.

Kemudian sampailah di jalanan Tawangmangu, sepupu saya memilih melewati pintu dua dibandingkan pintu satu. Saya nurut-nurut saja walau tidak mengetahui secara persis medan jalan pintu dua.

Jalanannya memang agak curam, kami sempat was-was bisa melewati rintangan jalan yang curam atau tidak. Teman kami dan suaminya sudah melesat di depan. Pada akhirnya di depan kami ada sebuah jalan yang benar benar curam lurus menukik ke bawah. Sepupu saya tiba-tiba pesimis dan takut motornya tidak mampu melewatinya. Saya pun ikut panik. Motor terus melaju dan tidak bisa dihentikan. Saya menyeret-nyeret kaki saya ke tanah, barangkali dapat mengurangi laju motor.

Motor terus saja melesat semakin kencang dan pada akhirnya kami melihat ada sebuah mobil di depan kami. Sungguh panik dan tidak bisa berfikir. Saya hanya pasrah pada sepupu saya. Ada tiga pilihan, hantam motor ke kiri yang artinya jatuh ke jurang, biarkan saja motor terus melaju yang artinya sudah pasti akan menabrak mobil, dan yang terakhir hantam motor ke kanan yang artinya menabrak semak-semak dan berujung pada pagar bambu. Saat itu rasanya seperti kejadian di film-film yang mengetahui bahwa rem nya blong dan tidak bisa melakukan apa-apa kecuali berteriak. Akan tetapi kondisi saya saat itu berbeda, sangat takut dan panik, bahkan untuk berteriak pun tidak bisa.

Akhirnya motor dihantamkan ke arah kanan ke semak-semak.

“Bruuuuuuuuuuk”

Saya jatuh dan menggelinding ke bawah sekitar 4 meter. Kepala rasanya berkunang-kunang dan tak sadarkan diri selama beberapa detik. Setelah sadar saya langsung mencari sepupu saya. Saya lihat ke arah atas ternyata sepupu saya masih tersangkut di motor. Saya segera menghampiri dan melihat keadaannya. Ternyata di belakang semak-semak tersebut ada batu yang sangat besar. Sepupu saya luka dibagian kaki dan ternyata lukanya dalam.

Semua orang lantas menghampiri dan membantu. Motor rusak, kaki sepupu saya pun luka cukup parah. Untungnya saya hanya memar-memar saja. Kami pun segera naik ke Grojogan sewu. Ajaib sekali sepupu saya ini, sudah luka parah malah nekat naik ke Grojogan Sewu.

Ketika pulang hujan deras sekali. Barulah sepupuku merasakan sakitnya. Setelah diobati kami memutuskan untuk pulang. Tapi hujan sangatlah deras dan motor pun rusak. Setelah menunggu sekian lama akhirnya kami meutuskan untuk nekat menerjang hujan deras. Kami mencari bengkel dahulu untuk memperbaiki kerusakan. Daaan Alhamdulillah pulang dengan selamat.

Smapai saat ini saya belum mengunjungi Tawangmangu lagi, dan akan berfikir puluhan kali untuk memutuskan ke sana.

Pentingnya Membayar dengan Uang pas

a
cr gambar : ulfahsoftskill.blogsot

Pernahkah anda mampir ke warung kecil dan membeli sesuatu? Lalu apakah anda menyodorkan selembar uang kertas 100ribu padahal belanjaan anda hanya senilai 5ribu rupiah?

Saya dahulu setiap kemana-pun pergi selalu membawa uang yang nilainya besar, ini bukan sok kaya lho ya tapi melihat dari segi praktisnya saja. Jadi setiap mampir ke toko atau warung bahkan jajanan pinggir jalan saya selalu menyodorkan uang yang bernilai besar padahal saya cuma beli sesuatu yang nilainya kecil. Saya menganggap, ah tak apa-apa toh sekalian tukar uang kecil.

Maklum saja saya memiliki pola pikir seperti itu. Saya dirumah membantu Ibu berjualan dan pembeli selalu menyodorkan uang bernilai besar padahal yang dibeli cuma beberapa ribu rupiah saja.

Pernah waktu itu ada sepasang suami istri yang membeli di tempat kami. Mereka membeli hanya senilai Rp. 3000,- saja dan uang yang disodorkan senilai Rp. 100.000,-. Saya sendirian di rumah kala itu dan tidak mempunyai uang kembalian sebesar itu. Saya harus menukar uang tersebut ke tetangga satu ke tetangga yang lain.

Adalagi suatu kejadian di suatu sore, lagi-lagi saya di rumah sendirian. Ada seorang bapak yang menyodorkan uang Rp 100.000,- padahal belanjaan beliau cuma Rp. 100.000,0. Saya harus menukar uang tsb ke tetangga saya lagi. Keesokan harinya, Bapak tersebut membeli lagi belanjaan Rp 10.000,- dan menyodorkan lagi uang Rp. 100.000,-. Kebetulan saya tidak punya uang kecil lagi. Saya harus kesana kemari, kebetulan tetangga tidak punya uang kecil semua. Lalu saya beranikan diri untuk bertanya pada Bapak tersebut

“Pak, maaf ada uang pas tidak? Saya sudah berusaha mencari uang kecil tapi tidak ada”

“Ohh nggak ada ya mbak, yaudah ini saja” kata Bapak tersebut seraya memberikan uang senilai Rp. 10.000,-

“Lah itu Bapak punya uang sepuluh ribuan” balas saya.

“Lha niat saya kan sekalian tukar uang mbak”. jawab Bapak tersebut seraya tersenyum.

____________________

Akan tetapi suatu kejadian seakan-akan menampar saya akan kebiasaan saya tersebut. Saat itu saya sedang liburan ke Taman Sari, Jogja. Kebetulan hari itu adalah hari minggu, tentu saja banyak turis lokal dan mancanegara mengunjungi tempat tersebut. Saya lihat antrian loket begitu panjangnya. Kemudian dengan sigap saya berbaris mengantri di loket. Setelah sekian menit menunggu antrian, akhirnya tiba giliran saya.

“Pak, karcis dua ya pak” seru saya.

“Sepuluh ribu” jawab Bapak penjaga loket. Saya kemudian menyodorkan uang senilai Rp. 50.000,- pada Bapak tersebut.

“Uang pas!” Kata Bapak tersebut dengan tegas

“Enggak ada itu pak, adanya ini'”

“Tukar sana!” Balas bapak tersebut dengan singkat.

Saya hanya terpaku di depan loket seraya merelakan giliran saya diberikan pada orang lain. Saya masih shock dan berkata dalam hati

“Bapaknya kejam banget!”

Saya menoleh kesana kemari mencari teman saya yang tak tahu dimana rimbanya. Kemudian saya tukar uang lima puluh ribuan tersebut dengan uang sepuluh ribuan. Saya pun harus mengantri dari belakang lagi untuk membeli tiket.

Kesal? Iya. Saya saja sudah bertahun-tahun selalu diperlakukan begitu oleh pembeli. Belinya berapa bayarnya berapa. Iya kalau uang yang dibayarkan dan total belanja selisihnya sedikit, kalau banyak apa ya tidak menyusahkan? Tapi kalau dipikir-pikir betul juga. Loket bukan tempat penukaran uang dan penjaga loket pun juga harus bekerja cepat agar antrian tidak semakin panjang.

Kadang sesuatu yang menurutmu tidak apa-apa bukan berati orang lain juga akan beranggapan sama.

Semenjak itu saya selalu menyiapkan uang kecil di dompet untuk jaga-jaga kalau ingin membeli sesuatu di warung atau toko. Memang benar pembeli adalah raja, tapi akankah lebih baik untuk tidak menyusahkan orang lain bukan?

Vanilla Muffin

Muffin? Muffin itu apaan ya?
Ada yang bilang bolu kukus? errr bukan, cupcake? bukan jugaa ><

Muffin adalah produk roti yang dipanggang, biasanya dimakan untuk sarapan dan biasanya disajikan dengan kopi. Ini roti asalnya dari Amerika.

Kayaknya sok banget ya bikin jenis roti yang kebule-bulean. haha. Muffin ini bikinnya cepet banget, no mixer and less egg. Gak perlu diaduk terlalu lama karena malah bikin kuenya bantet.

Aku bikinnya pakai papercup bruder diameter 55mm. Agak lumayan besar dan kuenya pun mengembang dengan besar pula. Makan satu cup aja udah kenyang banget. 🙂

Saya recook dari blog Mbak Ricke dengan sedikit modifikasi.

Bahan:
200 gram tepung terigu all purpose
100 gram mentega
125 gram gula
1 butir telur
1 sdm baking powder
1/2 sdt baking soda
20 gram susu bubuk
essence vanilla
chocochips
kismis

Cara membuat:
1. Campur tepung, susu bubuk gula, baking soda, dan baking powder.
2. Dalam wadah lain campurkan mentega leleh, essence vanilla, dan telur.
3. Tuangkan campuran tepung kedalam campuran mentega. Aduk rata sebentar saja.
Jangan mengudak adonan terlalu lama, cukup sekitar 5-7 kali.
4. Bagi adonan menjadi dua. Campur kismis ke adonan yang pertama dan campur chocochips ke adonan yang lain.
5. Tuang adonan ke papercup. Taburi atasnya dengan chocochps/kismis.
6. Panggang dengan adonan yang panas.

 

Bolu Gulung Pandan Keju

Bolu gulung, bolu gulung bikin kesel yang gulung sampe gulung-gulung.

Bolu gulung yang ini udah pengen banget buat dari dulu akhirnya kesampean. Aroma pandannya wangi banget. Ada nggak ya yang bikin parfum aroma pandan, maulah beli soalnya memang aromanya enak dan bikin laper.

Ini udah kedua kalinya bikin bolu gulung dan belum bisa menaklukkannya dengan hasil yang bagus. Selalu saja retak ketika digulung padahal tips dan trik sudah diterapkan. Gulungnya juga sudah sehati-hati mungkin, tapi tetap belum bisa rapi.